PSIKOLOGI KEBIDANAN
GANGGUAN PSIKOLOGI MASA NIFAS
DIAMPU OLEH :
DISUSUN OLEH :
Nama
: NIM
:
1.Ningsi
Patiallo 13150137
2.Rita
Jubaidah 13150159
3.Idola
Wati 13150161
4.Susan
Susanti 13150162
5.Monica
Elsya Tandi 13150163
6.Ely
Utary 13150164
7.Della
Afriani 13150165
8.Amoy 13150166
PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS RESPATI YOGYAKARTA
2013/2014
Alhamdulillahi rabbil alamin, puji syukur kehadirat Tuhan Yang
Maha ESA , karena atas berkat rahmat dan kasihNya , sehinggga penyusun akhirnya
dapat menyelesaikan makalah yang berjudul : “GANGGUAN PSIKOLOGI MASA NIFAS“.
Makalah gangguan psikologi masa nifas ini disusun guna memenuhi
tugas mata kuliah “PSIKOLOGI KEBIDANAN” yang diampu oleh “” . Dalam makalah ini
kami sebagai penyusun menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan hal-hal yang
perlu ditambahkan, karena kesempurnaan hanyalah milik Tuhan Yang Maha ESA. Oleh
karena itu banyak kritik dan saran yang kami harapkan dari para pembaca.
Akhirnya kami sebagai penyusun mengucapkan terimakasih banyak
kepada semua pihak yang telah membantu penyusunan makalah ini dan besar harapan
kami semoga makalah ini bermanfaat dan bisa menambah pengetahuan tentang
“GANGGUAN PSIKOLOGI MASA NIFAS”. Semoga tuhan senantiasa memberikan rahmatnya
kepada kita semua.
Penyusun,
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR..................................................................................................................... 1
DAFTAR
ISI................................................................................................................................. 2
BAB I
PENDAHULUAN................................................................................................................. 3
LATAR
BELAKANG....................................................................................................................... 3
RUMUSAN
MASALAH................................................................................................................. 3
BAB II
PEMBAHASAN.................................................................................................................. 4
PENGERTIAN
MASA NIFAS.......................................................................................................... 4
ADAPTASI
PSIKOLOGI MASA NIFAS............................................................................................. 4
GANGGUAN
MASA NIFAS.......................................................................................................... 6
BAB
III PENUTUP........................................................................................................................ 13
KESIMPULAN............................................................................................................................. 13
SARAN....................................................................................................................................... 17
BAB I
PENDAHULUAN
1.
Latar Belakang
Masa nifas
merupakan suatu keadaan yang fisiologis yang akan dialami oleh seorang wanita
setelah mengalami proses persalinan. Saat menalami nifas, banyak wanita yang
merasakan beberapa gangguan atau rasa cemas akibat beberapa faktor penentu.
Faktor yang dapat menentukanatau dapat menyebabkan adanya gangguan pada
psikologi ibu sangatlah banyak sekali, seperti rasa kehilangan janinnya yang telah terpisah dari dirinya, faktor
ekonomi yang menekan keadaan ibu, dan masih banyak lagi faktor yang dapat
menyebabkan gangguan pada psikologi ibu masa nifas.
Devinisi masa
nifassangatlah banyak versi, hal ini tergantung dari ahli yang mencetuskan masa
nifas itu sendiri. Pada dasarnya masa nifas memiliki satu makna yang sama yakni
masa setelah persalinan hingga 6 minngu setelah persalinan.
Dalam masa
nifas, tubuh ibu akan mengalami pemulihan pada bentuk semula yakni bentuk
sebelum hamil. Perubahan perubahan tersebut seperti perubahan pada sistem pencernaan,
perkemihan, hormonal, musculoskinetal, kardivvaskuler, hematologi,psikologi ibu
dan sebagainya. Perubahan peruhan tersebut merupakan perubahan yang fisiologis
yang terjadi selama masa nifas jika erubahan tersebut masih dalam batar normal
dan tidak mengarah ke keadaan patologi.
Oleh karena
itu, sebagai tenaga kesehatan yang paling dekat dengan klien (bidan), kita
wajib mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi pada ibu termasuk psikologi
ibu pada masa nifas agar tidak terjadi keadaan yang mengarah patologi dan
keadaan tersebut dapat segera diatasi bahkan dicegah secara dini. Segala hal
tersebut dapat diketahui dengan adanya tanda-tanda yang mengarah pada salah
satu perubahan yang patologi. Oleh karena itu bidan wajib mengetahui tanda dan
gejala guna penanganan pertama jika menemukan kasus seperti itu saat berada
dilapangan (dunia kesehatan).
2. Rumusan Masalah
1.
Bagaimana cara ibu masa nifas dalam
menghadapi masalah psikologisnya dalam merawat bayinya?
2.
Apa saja yang dilakukan ibu masa nifas dalam
menghadapi masalah masa nifas?
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Pengertian Masa
nifas
Sekitar 50% kematian ibu terjadi dalam
24 jam pertama postpartum sehingga pelayanan pasca persalinan yang berkualitas
harus terselenggara pada masa nifas untuk memenuhi kebutuhan ibu dan bayi serta
guna melakukan pendeteksian secara dini tentang adanya keadaan yang mengarah
komplikasi.
Masa nifas adalah masa pulih kembali,
mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti
sebelum hamil. Nifas (peurperium) berasal dari bahasa latin. Peurperium ini
sendiri berasal dari 2 dua suku kata yakni peur dan parous. Peur berarti bayi
dan parous berarti melahirkan. Jadi dapat disimpulkan bahwa peurperium
merupakan masa setelah melahirkan.
Peurperium atau nifas juga dapat diartikan
sebagai masa postpartum atau masa sejak bayi dilahirkan dan plasenta keluar
lepas dari rahim sampai 6 minggu berikutnyadisertai pulihnya kembali
organ-organ yang berkaitan dengan kandungan yang mengalami perubahan seperti
perlukaan dan lain sebagainya yang berkaitan saat melahirkan.
Beberapa tahapan masa nifas
diantaranya:
Peurperium dini
: masa kepulihan, dimana ibu diperbolehkan untuk berdiri dan berjalan serta
menjalankan aktifitasnya layaknya wanita normal lainnya
Peurperium intermediate
: suatu kepulihan menyeluruh alar-alat genitalia yang lamanya sekitar 6_8
minngu.
Peurperium
remote : waktu yang dibutuhkan untuk pulih dan sehat sempurna terutama apabila
ibu selama hamil atau persalinan mempunyai komplikasi.
2.
Adaptasi Psikologi Masa Nifas
Psikologi pada ibu nifas sebenarnya
telah mengalami proses adaptasi sejak ibu tersebut dalam kondisi hamil.
Perubahan perubahan psikologi pada setiap individu tentunya berbeda, hal ini
dipengaruhi oleh kondisi psikologi ibu sebelum hamil.
Pengalaman menjadi orang tua khususnya
menjadi seorang ibu tidaklah selalu merupakan suatu hal yang menyenangkan bagi
setiap wanita atau pasangan suami istri.
Banyak hal menambah beban hingga
membuat seorang wanita merasa down. Banyak wanita yang merasa tertekan pada saat setelah melahirkan,
sebenarnya itu hal yang wajar. Perubahan
peran seorang ibu memerlukan adaptasi yang harus dijalani ibu. Tanggung jawab
seorang ibu semakin besar dengan lahirnya bayi yang baru lahir. Dukunagn dan
perhatian dari seluruh anggota keluarga lainnya merupakan dukungan yang positif
bagi ibu. Dalam menjalani adaptasi setelah melahirkan, ibu akan mengalami fase
fase sebagai berikut:
Fase taking in
Merupakan
periode ketergantungan yang berlangsung pada hari pertama sampai hari kedua
setelah melahirkan. Pada saat itu focus perhatian ibu terutama pada dirinya
sendiri. Pengalaman selama proses persalinan sering berulang diceritakannya.
Hal ini membuat cenderung inu menjadi pasif terhadap lingkungannya.
Gangguan
psikologi pada fase ini biasanya antara lain:
¯ Kekecewaan karena tidak mendapatkan apa yang diinginkan
tentang bayinya (jenis kelamin, warna kulit, dan sebagainya)
¯ Ketidaknyamanan sebagai akibat dari perubahan fisik yang
dialami ibu (sakit pada jahitan perineum, mulat akibat adanya kontraksi uterus
dan sebgainya.)
¯ Rasa bersalah karena belum dapat menyusui bayinya.
¯ Kritikan dari orang terdekat menbuat ibu merasa tidak
nyaman yang sebenarnya tugas merawat bayi adalah tugas bersama bukan hanya
tugas dari ibu.
Fase taking
hold
Periode yang
berlangsung antara 3-10 hari setelah melahirkan. Pada fase ini ibu merasa
khawatir akan ketidakmampuannya dan rasa tanggung jawabnya dalam merawat bayi.
Pada fase ini ibu memerlukan dukungan karena saat ini merupakan kesempatan yang
baik untuk menerima berbagai penyuluhan dalam merawat diri dan bayinya sehingga
timbul percaya diri.
Fase letting go
fase menerima
tanggung jawab akan peran barunya yang berlangsung sepuluh hari setelah
melahirkan. Ibu sudah dapat menyesuaikan diri, merawat diri dan bayinya sudah
meningkat.
3. Gangguan pada Masa Nifas
a) Post Partum Blues
Ada kalanya ibu
mengalami perasaan sedih yang berkaitan dengan bayinya. Keadaan ini disebut
dengan baby blues, yang disebabkan oleh perubahan perasaan yang dialami ibu
saat hamil sehingga sulit menerima kehadiran bayinya. Perubahan perasaan ini
merupakan respon alami terhadap rasa lelah yang dirasakan. Selain itu, juga
karena perubahan fisik dan emosional selama beberapa bulan kehamilan. Disini
hormone memainkan peranan utama dalam hal bagaimana ibu bereaksi terhadap
situasi yang berbeda. Setelah melahirkan dan lepasnya plasenta dari dinding
rahim, tubuh ibu mengalami perubahan besar dalam jumlah hormone sehingga
membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri. Disamping perubahan fisik, hadirnya
seorang bayi dapat membuat perbedaan besar dalam kehidupan ibu dalam
hubungannya dengan suami, orang tua, maupun anggota keluarga lain. Perubahan
ini akan kembali secara perlahan setelah ibu menyesuaikan diri dengan peranan barunya dan tumbuh kembali dalam keadaan normal.
Port partum
blues merupakan masa transisi mood setelah melahirkan. Kejadian ini sering
terjadi pada 50_70 % wanita. Post partum blues atau sering juga disebut dengan
maternity blues. Gejala gejala dari post partum blues diantaranya sebagai
berikut:
v Sedih
v Sering menangis
v Mudah tersinggung
v Cemas
v Labilitas perasaan
v Sering menyalahkan diri sendiri
v Gangguan tidur
v Nafsu makan menurun
v Kelelahan
v Mudah sedih
v Cepat marah
v Mood cepat berubah
v Pelupa
v Perasaan bersalah
Faktor-faktor
penyebab timbulnya post pastum blues adalah sebagai berikut:
v Faktor
hormonal, berupa perubahan kadar estrogen, progesteron, prolaktin seta estriol
yang terlalu rendah.
v Ketidaknyamanan
fisik yang dialami sehingga menimbulkan perasaan emosi.
v Faktor umur dan
jumlah anak
v Pengalaman
dalam proses kehamilan dan persalinan.
v Dukungan yang
diberikan dari lingkungan (suami, keluarga dan yng lainnya)
v Ketidakmampuan
beradaptasi terhadap perubahan perubahan yang terjadi.
v Ketidaksiapan
terhadap perubahan peran yang terjadi pada wanita tersebut.
v Rasa memiliki
bayinya yang terlalu dalam sehingga takut yang berlebihan akan kehilangan
bayinya.
v Masalah
kecemburuan dari anak yang terdahulu
Beberapa cara
untuk mengatasi postpartum blues adalah sebagai berikut:
¯ Persiapan diri yang baik selama kehamilan untuk
menghadapi masa nifas.
¯ Komunikasi segala permasalahan atau hal yang ingin
disampaikan
¯ Selalu membicarakan rasa cemas yang dialami
¯ Bersikap tulus serta ikhlas terhadap apa yang telah
dialami dan berusaha melakukan peran barunya sebagai seorang ibu dengan baik.
¯ Cukup beristirahat
¯ Menghindari perubahan hidup yang drastis
¯ Berolahraga ringan
¯ Berikan dukungan dari semua keluarga, suami, atau
saudara.
¯ Konsultasikan pada tenaga kesehatan atau orang yang
profesional agar dapat memfasilitasi faktor resiko lainnya selama masa nifas
dan membantu dalam melakukan upaya pengawasan
b) Depresi Berat
Depresi berat
dikenal sebagai sindroma depresif non psikotik pada kehamilan namun umumnya
terjadi dalam beberapa mingggu sampai bulan setelah kelahiran. Gejala-gejala
dari depresi berat diantaranya sebagai berikut:
¯ Perubahan pada mood
¯ Gangguan pola tidur
¯ Perubahan nafsu makan dan mental
¯ Terkadang muncul fobia, ketakutan akan menyakiti diri
sendiri atau bayinya.
Depresi berat
akan memiliki resiko tinggi pada wanita atau keluarga yang pernah mengalami
kelainan psikiatrik atau pernah mengalami premenstrual sindrom. Penatalaksaan
depresi berat diantanya sebagai berikut:
§ Dukungan yang diberikan oleh keluarga dan lingkungan
sekitar
§ Lakukan terapi dari psikiater atau psikolog
§ Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat anti
depresan
§ Lakukan rujukan agar ibu mendapatkan perawatan yang lebih
intensif.
c) Psikosis Post Partum
Psikosi post partum merupakan
depresi yang paling berat, biasa terjadi pada minggu pertama dalam 6 minggu
setelah melahirkan.Faktor penyebab dari timbulnya psikosis post partum
diantranya sebagai berikut:
Faktor sosial kultural (dukungan
suami dan keluarga, kepercayaan atau etnik ).
Faktor obstetrik dan ginekologik
( kondisi fisik ibu dan kondisi fisik bayi )
Karakter personal seperti harga
diri yang rendah.
Perubahan hormonal yang cepat.
Marital disfungsion atau ketidak
mampuan membina hubungan dengan orang lain yang mengakibatkan kurangnya
dukungan.
Unwanted pregnancy atau kehamilan
tidak di inginkan
Merasa terisolasi.
Selain faktor penyebab, sebagai
tenaga kesehatan haruslah mengetahui gejala dari adanya psikosis post partum.
Gejala dari psikosis diantaranya adalah sebagai berikut:
o Curiga berlebihan
o Kebingungan
o Sulit konsentrasi
o Bicara meracau atau inkoheren
o Pikiran obsesif ( pkiran yang
menyimpang dan berulang-ulang )
o Impulsif ( bertindak diluar
kesadaran )
Setelah
mengetahui tanda dan gejala dari psikosis post partum, tenaga kesehatan
haruslah dapat menangani kegawatdaruratan dari psikosis post partum.
Penatalaksanaan dari psikosa post partum diantaranya sebagai berikut:
Dukungan dari
keluarga dan lingkungan sekitar
Kolaborasi
dengan dokter untuk pemberian obat anti depresan
Lakukan rujukan
ke rumah sakit guna perawatan lebih lanjut.
Untuk mengurangi resiko
terjadinya psikosis post partum, maka lakukan pencegahn- pencegahan dibawah
ini.
§ Pelajari diri sendiri
Pelajari dan mencari informasi
mengenai depresi dan psikosis pospartum, sehingga ibu dan keluarga sadar
terhadap kondisi ini. Apabila terjadi, maka akan segera mendapatkan penanganan
yang tepat.
§ Tidur dan makan yang cukup
Diet nutrisi penting untuk
kesehatan, lakukan usaha yang terbaik dengan makan dan tidur yang cukup.
Keduanya penting dalam periode pospartum.
§ Olahraga
Merupakan kunci untuk mengurangi
psikosis postpartum, lakukan peregangan selama 15 menit dengan berjalan kaki
setiap hari, sehingga membuat ibu menjadi lebih rileks dan lebih menguasai
emosional yang berlebihan.
§ Beritahukan perasaan ibu
Jangan takut untuk mengutarakan
perasaan ibu dan mengekspresikan yang ibu inginkan dan butuhkan demi kenyamanan
ibu. Jika mempunyai masalah, segera beritahukan kepada orang yang dipercaya
ataupun orang yang terdekat.
§ Dukungan dari keluarga dan orang-orang terdekat
Dukungan dari orang terdekat dari
mulai kehamilan, persalinan dan pospartum sangat penting, yakinkan diri ibu
bahwa keluarga selalu berada disamping ibu setiap ada kesulitan.
§ Persiapan diri dengan baik
Persiapan sebelum persalinan
sangat diperlukan, ikutlah kelas hamil, baca buku-buku yang dibutuhkan.
§ Lakukan pekerjaan rumah tangga
Pekerjaan rumah tangga sedikit
banyak dapat membantu ibu melupakan golakan perasaan yang terjadi selama
periode pospartum. Kondisi anda yang belum stabil, bisa ibu curahka dengan
memasak atau membersihkan rumah.
§ Dukungan emosional
Minta dukungan emosional dari
keluarga dan lingkungan sehingga ibu dapat mengatasi rasa frustasi atau stress.
Ceritakan pada mereka mengenai perubahan yang ibu rasakan, sehingga ibu merasa
lebih baik dari setelahnya.
d) Kesedihan dan Dukacita
§ Kemurungan masa nifas
Kemurungan masa
pada masa nifas masih dapat dianggap normal. Hal ini disebabkan oleh perubahan
yang dalam tubuh seorang wanita selama kehamilan dan persalinan serta perubahan
dalam irama/cara kehidupan ibu setelah bayinya lahir. Seorang ibu lebih
beresiko mengalami kemurungan pasca
persalinan, karena ia masih mudah mempunyai masalah dalam menyusui bayinya.
Kemurungan pada masa nifas merupakan hal yang umum dan perasaan-perasaan itu
demikian biasanaya hilang sendiri dalam dua minggu sesudah melahirkan.
Tanda–tanda dan
gejala dari kemurungan post partum sebagai berikut:
§ sangat emosional
§ sedih
§ khawatir
§ mudah tersinggung
§ cemas
§ merasa hilang semangat
§ mudah marah
§ sedih tanpa sebab
§ labil
§ tidak bisa tidur
§ nafsu makan menurun
§ merasa tidak mampu untuk merawat diri dan bayi
§ ingin menciderai diri / bayinya
§ menangis berulang kali.
Jika tanga dan
gejala tersebut dibiarkan, maka ibu akan mengalami keadaan yang makin memburuk
dan dapat berdampak menjadi sebuah gangguan psikologi ibu yakni halusinasi.
Halusinasi merupakan sikap ibu yang merasa mendengar suara-suara (bisikan) atau
tidak dapat berpikir secara jernih.
Etiologi
terjadinya kemurungan postpartum yakni adanya berbagai perubahan yang terjadi
didalam tubuh wanita sealama kehamilan dan perubahan dengan cara hidupnya sesudah mempunyai bayi. Perubahan hormonal
yang cepat sementara tubuh pada keadaan tidak hamil dan sementara proses
menyesuai telah terjadi.adanya perasaan
kehilangan fisik sesudah melahirkan yang menjurus pada perasaan sedih.
Kemurungan akan
semakin menjadi parah oleh adanya ketidaknyamanan jasamani, rasa letih, stres,
atau kecemasan. Penatalaksanan dari kemurungan postpartum yakni
v Ajaklah ibu untuk membicarakan hal yang dialami oleh ibu.
v Dampingi ibu dan bayi agar ibu tidak merasa kesepian dan
murung untuk beberapa hari atau beberapa minggu.
v Berikan kesempatan yang luas untuk bertanya kepada ibu
v Bantu ibu untuk merawat dirinya dan bayinya agar ibu
merasa diprehatikan
v berikan dukungan atau dorongan pada ibu untuk merwat
bayinya.
§ Terciptanya ikatan antara ibu dan anak
Menciptakan
terjadinya ikatan antara ibu dan bayi dalam jam pertama setelah melahirkan
yaitu dengan cara mendorong pasangan orang tua memegang bayinya, serta
memberikan kesempatan untuk mengeksplor tubuh bayi dan memberikan komentar
positif tentang bayinya.
Perilaku normal
orang tua untuk menyentuh dan mengeksplor bayinya ketika mereka pertama kali
melihat bayinya serta mengusap tubuh bayinya
dengan telapak tangan lalu mengedongnya dilengan dan memposisikanya
sedemikian rupa sehingga matanaya bertatapan langsung dengan mata bayi.
Berbagai
perilaku yang merupakan tanda yang harus diwaspadai dalam kaitannya dengan
ikantan antara ibu adalah sikap bermusuhan yang ditunjukkan ibu. Hal ini dapat
ditunjukkan dengan adanya tanda gejala sebagai berikut:
v Ibu tidak mau menatap bayinya
v Ibu acuh terhadap bayi
v Ibu tidak mau menyentuh dan mengekplor bayi
v Terlihat adanya kekecewaan terhadap bayinya yang
disebabkan oleh suatu hal (jenis kelamin tidak sesuai dengan keinginan)
v Memberikan komentar yang negatif pada bayinya
Penatalaksanaan
dari tidak adanya ikatan yang baik antara ibu dan bayi diantaranya :
o Berikan
dukunagn kepada ibu untuk mengekplor dan menerima keadaan bayinya.
o Ciptakan
suasana yang dapat menumbuhkan rasa percayadiri ibu.
o Lakukan pengamatan
terhadap sikap ibu terhadap bayinya secara continue.
o Lakukan rujukan
jika sikap bermusuhan pada ibu yang berkelanjutan.
Kesedihan dan
dukacita sering terjadi pada ibu nifas. Hal ini biasanya terjadi pada ibu yang
merasa kekecewaan terhadap bayi yang dilahirkan atau merasa kehilangan bayinya.
Guna pencegahan
untuk keadaan ini diantaranya sebagai berikut:
o Menyadari
keadaan dirinya dan janin selama masa kehamilan.
o Berikan
dukungan untuk ibu dari keluarga dan lingkungan sekitar
o Anjurkan ibu
untuk selalu mengingat Maha Pencipta atau mendekatkan diri kepada Tuhan.
o Berikan
kepercayaan ibu selama kehamilan dan persalinan
o Anjurkan ibu
untuk melakukan aktifitas yang bermanfaat untuk dirinya (mengisi waktu luang)
BAB III
PENUTUP
1.
Kesimpulan
Masa nifas adalah masa pulih kembali,
mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti
sebelum hamil. Nifas (peurperium) berasal dari bahasa latin. Peurperium ini
sendiri berasal dari 2 dua suku kata yakni peur dan parous. Peur berarti bayi
dan parous berarti melahirkan. Jadi dapat disimpulkan bahwa peurperium
merupakan masa setelah melahirkan.
Beberapa tahapan masa nifas
diantaranya:
Peurperium dini
Peurperium
Peurperium
remote
Dalam menjalani adaptasi pada masa
nifas, ibu akan mengalami fase fase sebagai berikut:
Fase taking in
Fase taking
hold
Fase letting go
Post partum blues merupakan masa
transisi mood setelah melahirkan. Kejadian ini sering terjadi pada 50_70 %
wanita. Post partum blues atau sering juga disebut dengan maternity blues. Gejala
gejala dari post partum blues diantaranya sebagai berikut:
v Sedih
v Sering menangis
v Mudah tersiggung
v Cemas
v Labilitas perasaan
v Sering menyalahkan diri sendiri
v Gangguan tidur
v Nafsu makan menurun
v Kelelahan
v Mudah sedih
v Cepat marah
v Mood cepat berubah
v Pelupa
v Perasaan bersalah
Faktor-faktor penyebab timbulnya post pastum blues adalah
sebagai berikut:
v Faktor hormonal
v Ketidaknyamanan
fisik yang dialami sehingga menimbulkan perasaan emosi.
v Faktor umur dan
jumlah anak
v Pengalaman
dalam proses kehamilan dan persalinan.
v Dukungan yang
diberikan dari lingkungan (suami, keluarga dan yng lainnya)
v Ketidakmampuan
beradaptasi terhadap perubahan perubahan yang terjadi.
v Ketidaksiapan
terhadap perubahan peran yang terjadi pada wanita tersebut.
v Rasa memiliki
bayinya yang terlalu dalam sehingga takut yang berlebihan akan kehilangan
bayinya.
v Masalah
kecemburuan dari anak yang terdahulu
Beberapa cara untuk mengatasi
postpartum blues adalah sebagai berikut:
¯ Persiapan diri yang baik selama kehamilan untuk
menghadapi masa nifas.
¯ Komunikasi segala permasalahan atau hal yang ingin
disampaikan
¯ Selalu membicarakan rasa cemas yang dialami
¯ Bersikap tulus serta ikhlas terhadap apa yang telah
dialami dan berusaha melakukan peran barunya sebagai seorang ibu dengan baik.
¯ Cukup beristirahat
¯ Menghindari perubahan hidup yang drastis
¯ Berolahraga ringan
¯ Berikan dukungan dari semua keluarga, suami, atau
saudara.
¯ Konsultasikan pada tenaga kesehatan atau orang yang
profesional agar dapat memfasilitasi faktor resiko lainnya selama masa nifas
dan membantu dalam melakukan upaya pengawasan
Gejala-gejala
dari depresi berat diantaranya sebagai berikut:
¯ Perubahan pada mood
¯ Gangguan pola tidur
¯ Perubahan nafsu makan dan mental
¯ Terkadang muncul fobia, ketakutan akan menyakiti diri
sendiri atau bayinya.
Penatalaksaan
depresi berat diantaranya sebagai berikut:
§ Dukungan yang diberikan oleh keluarga dan lingkungan
sekitar
§ Lakukan terapi dari psikiater atau psikolog
§ Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat anti
depresan
§ Lakukan rujukan agar ibu mendapatkan perawatan yang lebih
intensif.
Faktor penyebab dari timbulnya psikosis post partum
diantranya sebagai berikut:
Faktor sosial kultural
Faktor obstetrik dan ginekologik
Karakter personal seperti
Perubahan hormonal yang cepat.
Marital disfungsion
Unwanted pregnancy
Merasa terisolasi.
Gejala dari psikosis diantaranya
adalah sebagai berikut:
o Curiga berlebihan
o Kebingungan
o Sulit konsentrasi
o Bicara meracau atau inkoheren
o Pikiran obsesif
o Impulsif
Penatalaksanaan dari psikosa post
partum diantaranya sebagai berikut:
Dukungan dari
keluarga dan lingkungan sekitar
Kolaborasi
dengan dokter untuk pemberian obat anti depresan
Lakukan rujukan
ke rumah sakit guna perawatan lebih lanjut.
Kesedihan dan dukacita sering terjadi
pada ibu nifas. Hal ini biasanya terjadi pada ibu yang merasa kekecewaan
terhadap bayi yang dilahirkan atau merasa kehilangan bayinya.
Guna pencegahan untuk keadaan ini
diantaranya sebagai berikut:
o Menyadari
keadaan dirinya dan janin selama masa kehamilan.
o Berikan
dukungan untuk ibu dari keluarga dan lingkungan sekitar
o Anjurkan ibu
untuk selalu mengingat Maha Pencipta atau mendekatkan diri kepada Tuhan.
o Berikan
kepercayaan ibu selama kehamilan dan persalinan
o Anjurkan ibu
untuk melakukan aktifitas yang bermanfaat untuk dirinya (mengisi waktu luang)
2.
Saran
Makalah merupakan salah
satu karya tulis yang dapat membantu para pembacanya untuk mendapatkan
informasi tertentu. Untuk itu, bagi para pembaca sebaiknya membaca beberapa
sumber atau literatur guna perbandingan.